Parfum organik

Parfum organik adalah wewangian alami, bebas dari bahan kimia berbahaya dan zat sintetis beracun. Dengan meningkatnya ancaman efek rumah kaca, penggunaan minyak buatan dalam pembuatan parfum hampir terhenti. Sebagian besar produsen parfum kini melihat perkembangan parfum organik yang tidak berkontribusi pada efek rumah kaca. Penggunaan parfum organik tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga tampaknya ramah terhadap kulit. Penggunaan parfum organik tidak menimbulkan ruam kulit atau penyakit kulit yang berbahaya.

Ekstrak tumbuhan adalah bahan utama dalam membuat parfum organik karena mengandung minyak esensial dan wewangian. Secara umum terlihat bahwa tanaman memiliki lebih dari satu sumber wewangian, seperti dalam kasus daun ketumbar, bagian udara tengah, dan biji mereka memiliki bau yang sama sekali berbeda.

Minyak esensial dan aroma komposit diekstraksi dari tanaman ketika membuat parfum organik. Aromatik ini biasanya merupakan produk metabolisme sekunder yang dihasilkan oleh flora dan berfungsi sebagai perlindungan terhadap infeksi herbivora dan untuk menarik penyerbuk. Demikian pula, daun jeruk, tunas dan kulit buah adalah sumber yang relevan dari gandum petit, neroli dan minyak jeruk.

Bunga dan bunga adalah sumber yang paling penting di tanaman dari mana minyak wangi maksimum dapat diekstraksi. Bunga-bunga ini mengandung berbagai jenis mawar dan melati, tetapi juga osmanthus, mimosa tuberose dan bunga dan kuncup daun jeruk dan ylang-ylang.

Meskipun bukan bunga, tunas cengkih yang belum dibuka juga biasanya digunakan dalam membuat parfum. Daun dan ranting juga digunakan untuk membuat parfum organik. Mereka dihargai karena aroma "hijau" mereka membawa parfum. Buah adalah sumber lain dari minyak wangi untuk produksi parfum. Buah-buahan yang paling umum digunakan mengeluarkan bau mereka dari lapisan luarnya. Buah yang digunakan untuk ekstraksi minyak adalah buah jeruk, seperti jeruk, lemon, limau dan grapefruits.

Selama bertahun-tahun, peran flora dan fauna dalam membuat parfum telah ditingkatkan dan dikembangkan.



Source by Jimmy Sturo

Comments are closed.